Pendahuluan

Pengguna baru Go bertanya kenapa sintaksis deklarasi berbeda dengan tradisi yang telah dibangun dalam keluarga bahasa C. Dalam artikel ini kita akan membandingkan pendekatan dari kedua bahasa tersebut dan menjelaskan kenapa deklarasi Go bentuknya seperti sekarang.

Sintaksis pada C

Pertama, mari kita telaah sintaksis pada C. C menggunakan pendekatan yang cerdas dan tidak biasa untuk sintaksis deklarasi. Dalam C, kita menulis sebuah ekspresi yang mengikutkan item yang dideklarasikan, dan menyatakan tipe yang akan dimiliki oleh ekspresi tersebut. Maka

int x;

mendeklarasikan x sebagai int: ekspresi 'x’ akan bertipe int. Pada umumnya, untuk mengetahui cara menulis tipe untuk variabel yang baru, tulis sebuah ekspresi yang mengikutkan variabel tersebut yang dievaluasi ke sebuah tipe dasar, kemudian tulis tipe dasar pada bagian kiri dan ekspresinya pada bagian kanan.

Maka, deklarasi

int *p;
int a[3];

menyatakan bahwa p adalah sebuah pointer ke int karena '*p’ memiliki tipe int, dan a adalah sebuah array dari int karena a[3] (mengindahkan nilai indeks, yang mana merupakan ukuran dari array) bertipe int.

Bagaimana dengan fungsi? Aslinya, deklarasi fungsi pada C menaruh tipe dari argumen di luar tanda kurung, seperti berikut:

int main(argc, argv)
	int argc;
	char *argv[];
{ /* ... */ }

Kita dapat melihat bahwa main adalah sebuah fungsi karena ekspresi main(argc,argv) mengembalikan sebuah int. Dalam notasi modern kita menulisnya dengan

int main(int argc, char *argv[]) { /* ... */ }

namun struktur dasarnya sama.

Hal ini adalah ide sintaksis yang cerdas yang bekerja dengan baik untuk tipe sederhana namun kemudian bisa menjadi membingungkan. Contoh yang paling terkenal yaitu deklarasi pointer ke fungsi. Dengan mengikuti aturan di atas, kita akan mendapatkan ini:

int (*fp)(int a, int b);

Di sini, fp adalah sebuah pointer ke sebuah fungsi karena jika kita menulis (*fp)(a,b) artinya kita akan memanggil sebuah fungsi yang mengembalikan int, bukan mendeklarasikan pointer ke fungsi. Bagaimana jika salah satu argumen dari fp adalah sebuah fungsi?

int (*fp)(int (*ff)(int x, int y), int b)

Hal ini mulai semakin sukar dibaca.

Tentu saja, kita dapat mengindahkan nama dari parameter saat mendeklarasikan sebuah fungsi, sehingga main dapat dideklarasikan

int main(int, char *[])

Ingat kembali bahwa argv dideklarasikan seperti berikut,

char *argv[]

sehingga kita menghilangkan nama di tengah deklarasi untuk membentuk tipenya. Tampak tidak jelas, kita mendeklarasikan sesuatu bertipe char *[] dengan menaruh namanya di tengah.

Dan lihat apa yang terjadi dengan deklarasi fp jika kita tidak menamakan parameter:

int (*fp)(int (*)(int, int), int)

Tidak jelas di mana harus menaruh nama parameter di dalam deklarasi di atas dan

int (*)(int, int)

tidak juga jelas bahwa ia adalah sebuah deklarasi pointer ke fungsi. Dan bagaimana jika tipe kembalian adalah sebuah pointer ke fungsi?

int (*(*fp)(int (*)(int, int), int))(int, int)

Semakin sukar melihat bahwa deklarasi ini adalah tentang fp.

Kita bisa membentuk beberapa contoh lain namun hal di atas cukup mengilustrasikan beberapa kesukaran yang diperkenalkan dari sintaksis deklarasi C.

Ada salah satu hal lain yang harus diperhatikan. Karena tipe dan sintaksis deklarasi adalah sama, maka akan sulit untuk membaca ekspresi dengan tipe di tengah. Inilah kenapa, misalnya, konversi pada C selalu mengurung tipenya, seperti

(int)M_PI

Sintaksis Go

Bahasa-bahasa di luar keluarga C biasanya menggunakan sintaksis tipe yang berbeda dalam deklarasi. Nama (variabel) biasanya yang pertama, terkadang diikuti oleh tanda titik-dua. Maka contoh kita di atas menjadi seperti (dalam bahasa yang fiksi namun ilustratif)

x: int
p: pointer to int
a: array[3] of int

Deklarasi seperti ini jelas, walaupun panjang - kita membacanya dari kiri ke kanan. Go mengambil petunjuk dari situ, namun supaya singkat maka tanda titik-dua berikut dengan beberapa kata kunci dihapus:

x int
p *int
a [3]int

Tidak ada korespondensi langsung antara bentuk [3]int dengan bagaimana cara menggunakan a dalam sebuah ekspresi. (Kita akan lihat dibagian selanjutnya bagaimana pointer dideklarasikan.) Kita mendapatkan kejelasan dengan sintaksis yang berbeda.

Sekarang bandingkan fungsi. Mari kita terjemahkan deklarasi untuk fungsi main seperti yang ditulis di atas bila ditulis dalam Go, walaupun fungsi main sebenarnya dalam Go tidak menerima argumen:

func main(argc int, argv []string) int

Secara singkat tidak begitu berbeda dari C, selain perubahan dari array char menjadi string, namun terbaca dengan jelas dari kiri ke kanan:

fungsi main menerima sebuah int dan sebuah slice dari string dan mengembalikan sebuah int.

Hapus nama parameter dan ia masih tetap jelas terbaca - nama parameter selalu yang pertama sehingga tidak menimbulkan kebingungan.

func main(int, []string) int

Salah satu kelebihan gaya kiri-ke-kanan ini yaitu bekerja dengan baik saat tipe semakin kompleks. Berikut deklarasi dari sebuah variabel fungsi (analogi dari sebuah pointer ke fungsi dalam C):

f func(func(int,int) int, int) int

Atau jika f mengembalikan sebuah fungsi:

f func(func(int,int) int, int) func(int, int) int

Ia masih terbaca dengan jelas, dari kiri ke kanan, dan selalu kentara nama apa saja yang dideklarasikan - nama selalu yang pertama.

Perbedaan antara tipe dan ekspresi sintaksis membuat kita mudah menulis dan memanggil closure dalam Go:

sum := func(a, b int) int { return a+b } (3, 4)

Pointer

Pointer adalah pengecualian yang membuktikan aturan tersebut. Perhatikan bahwa dalam array dan slice, misalnya, sintaksis tipe Go menaruh tanda kurung-siku di sebelah kiri tipe tetapi sintaksis ekspresi menaruhnya di sebelah kanan ekspresi:

var a []int
x = a[1]

Karena kebiasaan, pointer pada Go menggunakan notasi * dari C, namun kita tidak bisa menggunakan sintaksis C yang sama untuk pointer ke tipe. Maka pointer bekerja seperti berikut

var p *int
x = *p

Kita tidak bisa menulis

var p *int
x = p*

karena sufiks * akan berbenturan dengan perkalian. Kita bisa menggunakan notasi ^ seperti pada Pascal, contohnya:

var p ^int
x = p^

dan mungkin sebaiknya begitu (dan memilih operator lain untuk xor), karena prefiks bintang pada kedua tipe dan ekspresi mempersulit beberapa hal. Misalnya, walau kita bisa menulis

[]int("hi")

saat melakukan konversi, kita harus memberi tanda kurung pada tipe jika ia berawalan sebuah *:

(*int)(nil)

Seandainya saja kita mau menyerah menggunakan tanda * sebagai sintaksis pointer, maka ekspresi tanda kurung tersebut tidak diperlukan lagi.

Jadi sintaksis pointer pada Go terikat dengan kebiasaan bentuk pada C, namun keterikatan tersebut berarti kita tidak dapat sepenuhnya berhenti dari menggunakan tanda-kurung untuk membedakan tipe dan ekspresi dalam tata bahasa.

Secara keseluruhan, kita percaya sintaksis tipe pada Go lebih mudah dipahami daripada C, terutama saat hal-hal menjadi semakin kompleks.

Catatan

Deklarasi pada Go dibaca dari kiri ke kanan. Deklarasi pada C dikatakan dibaca secara spiral! Lihat The Clockwise/Spiral Rule oleh David Anderson.